Inget nggak sensasi pertama kali liat smartphone lipat? Futuristik banget. Kayak pegang barang dari film. Tapi coba lo tanya diri sendiri sekarang: buat apa sebenernya? Beneran ngejawab masalah lo sehari-hari? Atau cuma buat gaya-gayaan yang repot?
Itulah titik kritis di 2026. Smartphone lipat gagal lagi bukan karena teknologinya jelek. Tapi karena konsumen akhirnya sadar: ini cuma pencitraan teknis yang nggak sebanding sama sakit kepala yang dibawa.
Survei pasar Global Mobile User 2026 bilang, minat beli smartphone lipat di segmen harga premium turun drastis, dari puncak 35% di 2024 jadi cuma 12% di kuartal pertama 2026. Kenapa? Karena konsumen tolak smartphone lipat yang rapuh. Mereka capek sama janji dan kompromi.
Dulu, masalahnya crease di layar. Sekarang, masalahnya fundamental. Nilai jual “bisa dilipat” udah nggak cukup kuat buat nutup kekurangannya.
Analisis: Dari Faktor “Wah” ke Faktor “Ngapain?”
- Kasus “Flagship Lipat vs. Flagship Biasa”: Perang yang Kalah Sejak Awal. Ambil contoh dua flagship dari brand yang sama tahun 2026. Yang biasa: bodi alumunium-seramik solid, tahan air IP68, baterai 5000mAh, kamera utama lensa terbaru. Harganya Rp 18 juta. Yang lipat: bodinya punya engsel rentan, rating tahan air lebih rendah (karena celah engsel), baterai cuma 4400mAh karena ruang terpakai mekanisme lipat, kamera kadang dikurangi. Harganya? Rp 28 juta. Buat apa bayar ekstra Rp 10 juta buat produk yang secara objektif lebih lemah di segi ketahanan, baterai, dan seringkali kamera? Teknologi smartphone lipat rapuh ini jadi beban, bukan keunggulan.
- Paradoks Ergonomi: “Bentuk Baru, Masalah Lama yang Memburuk”. Iklannya bilang, “Sekecil telepon, selebar tablet.” Realitanya? Dalam keadaan terlipat, layarnya lebih sempit dan lebih tebal dari smartphone biasa—jadi nggak enak dipegang dan di saku. Dalam keadaan terbuka, lo pegang “tablet” yang beratnya nggak seimbang, dengan engsel besar di tengah yang bikin genggaman nggak nyaman. Mau taruh di meja buat nonton? Layarnya miring karena ada tonjolan engsel. Mau bikin video call? Kamera ada di bagian yang dilipat, jadi angle-nya aneh. Ini bukan inovasi. Ini kompromi ergonomi yang nggak jelas ujungnya.
- “Masalah yang Tidak Ada” dan Skenario Penggunaan Palsu. Marketing-nya maksa narasi: “Buka jadi tablet untuk produktivitas!” Tapi bener nggak sih? Saat butuh produktif beneran (edit dokumen, spreadsheet), lo bakal ambil laptop atau tablet beneran. Saat cuma mau scroll media sosial atau chat, layar smartphone biasa udah lebih dari cukup. Lipat-buka-lipat cuma jadi ritual tambahan yang nggak perlu. Smartphone lipat jadi solusi mencari masalah, bukan sebaliknya.
Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari siklus hype dan kekecewaan ini?
Common Mistakes Konsumen (dan Media):
- Terpukau dengan “Demo Panggung” dan Melupakan Penggunaan Harian: Di panggung launch, buka-tutup layar 10 kali dalam 2 menit terlihat keren. Tapi dalam hidup lo, berapa kali lo beneran butuh buka-tutup dalam sehari? Nyaris nggak ada. Jangan beli berdasarkan demo yang disutradarai.
- Mengorbankan Segalanya untuk Satu Fitur “Futuristik”: Rela nrima baterai kecil, kamera biasa, ketahanan rendah, dan harga gila-gilaan… cuma supaya bisa bilang “gue punya yang bisa dilipat”. Prioritasnya kacau.
- Berharap Teknologi “Akan Sempurna di Generasi Berikutnya”: Kita sudah nunggu 5-6 generasi. Engsel memang makin kuat, crease makin halus. Tapi masalah inti—harga gila, ketahanan lebih rendah, ergonomi aneh—tetap ada karena itu melekat pada konsep produk lipat itu sendiri.
Tips Praktis Kalau Masih Penasaran atau Mau Beli:
- Tanyakan “Aku akan pakai ini sebagai APA, dan BERAPA KALI?”: Jujur sama diri sendiri. “Aku akan buka jadi tablet untuk baca e-book 30 menit setiap hari.” Kalau jawabannya kurang dari “beberapa kali setiap hari”, kemungkinan besar lo cuma butuh smartphone biasa plus tablet terpisah.
- Prioritaskan Garansi dan Proteksi Layar (Tapi Siap Mental): Kalau nekat beli, pastikan garansi resmi mencakup kerusakan engsel dan ganti layar (ini yang paling mahal). Bahkan, beli proteksi layar tambahan. Tapi siap-siap, meski ada garansi, proses servisnya bisa mingguan dan lo bakal tanpa ponsel.
- Pertimbangkan “Flip” bukan “Fold” (Tapi Tetap Ada Kompromi): Model flip (lipat vertikal seperti flip phone jadul) punya proposisi lebih jelas: jadi lebih kecil untuk dibawa. Tapi dia tetap punya masalah engsel, layar lentur, dan baterai kecil. Tapi setidaknya, dia menjawab satu kebutuhan yang jelas: portabilitas ekstrem.
Intinya, smartphone lipat gagal karena dia tidak pernah benar-benar menjawab “buat apa?” dengan meyakinkan. Dia adalah jawaban yang cari pertanyaan. Di 2026, konsumen sudah terlalu pintar untuk jatuh ke dalam perangkap inovasi kosong seperti itu.
Mungkin waktunya kembali ke dasar. Ponsel yang andal, tahan banting, baterai seharian penuh, dan harganya masuk akal. Itu yang kita butuhkan. Bukan gadget yang cuma bisa bikin orang melirik, lalu bikin kita khawatir setiap kali melipatnya.
Masih mau jadi early adopter yang bayar mahal untuk masalah? Pilihan lo.